Jumat Di Taiwan
#JUMAT
Pada bulan Februari kemarin, saya berkesempatan libur pada hari jumat(hari raya imlek). Hari itu saya berniat untuk mengunjungi saudara yg sudah sangat lama tak bersua di Sinchu. Namun, saya berniat mampir ke Masjid Longgang di Chungli. Setahu saya, letak masjid itu kan, searah jalur kereta yang saya tumpangi. Sayang banget kan, kalau ngga ke sana.
Saat di kereta, saya sempat bertemu beberapa saudara PMI. Saya berharap ada salah satu dari mereka yang bertujuan ke Masjid, jadi saya bisa bareng. Karena ini pertama kalinya saya ke sana. Sedangkan menurut informasi yang saya terima, letak masjid itu jauh dari stasiun kereta dan pusat keramaian. Apalagi dengan bahasa mandarin dan inggris saya yang terbatas, jadi saya sedikit nerveous.
Dengan modal panduan Google dan sedikit info dari Mba cantik, Saya bismillah aja. Saya kan, mau berkunjung ke rumahNya, InshaAllah akan dituntun-Nya juga.
Setelah keluar dari stasiun Chungli, saya di barengi sama Si Mbak baik hati yang mau ke rumah sakit dan diantar sampai terminal. Sesampainya di terminal, saya mencari bus nomer 112. Alhamdulillah, busnya sudah stand by. Jadi saya langsung masuk.
Di dalam bus sudah ada beberapa penumpang. Hati saya mulai deg-degan dan bertanya-tanya, nanti turunnya di mana? Kalau saya ngomong supir paham ngga? Maklum, waktu itu saya belum lama di sini dan belum pernah ke luar kota Taipei.
Eh ... tak lama kemudian masuk dua orang Mamas yang kalau dilihat dari wajahnya sih, Indonesia banget.
"Mas indo ya?" tanyaku.
"Iya mba.”
"Kebetulan mau nanya, Kalau mau turun di masjid, ngomongnya gimana?"
"Nih, kita berdua juga mau ke sana mba! Bareng aja"
"Oh, gitu! Alhamdulillah!"
Lega hati ini.
***
Lima belas menit kemudian kami telah sampai 'Bus stop' terdekat dwngan Masjid. Setelah turun, Saya di hadapkan dengan puluhan Mamas-Mamas Indonesia
Hmm...Kok ga ada ceweknya, ya!
Oh iya, hari ini Jumat, Mamas-Mamas ini mau jumatan.
Lalu saya masuk masjid lewat jalan belakang. Sesampainya di sana, saya mau wudhu terus pengen selfi sebentar di depan masjid
*Maafkan diriku, tapi kan buat kenangan. Lagi pula kesempatan kayak gini kan, jarang.
Namun, saya tidak bisa selfi, karena apa?
Depan masjid sudah penuh dengan lautan Mamas. Ada yang lagi ngobrol, ada yang lagi nggelar karpet, ada yang lagi main hape, ada yang lagi selfi(ya, selfi), ada yang lagi bantuin masak di halaman ujung, dan sebagainya.
*Mamas-Mamas yang di sini beda lho, sama yang di bus stop tadi. Mereka kebanyakan belum masuk kesini. Bisa dibayangkan jumlahnya.
Karena ngga ada cewek satu pun di situ, saya pun masuk ke bagian wanita. Masih sepi. Tak berapa lama kemudian, jamaah cewek mulai berdatangan. Kebanyakan dari mereka itu, Mbak-Mbak Mahasiswa dan Muslimah Taiwan. Ada beberapa juga sih, yang PMI kaya saya.
Di sebelahku ada sesembak orang taiwan, dia juga datang dari Taipei.
“Lho, di Taipei kan Masjid besarnya dua, Kok ngga praying di sana aja?"
Katanya di Taipei sudah sangat penuh, bahkan membludak, karena hari ini bertepatan dengan public holiday.
Jadi ingat, Taiwan kan, negara sekuler, tidak ada waktu khusus utk sholat jumat. Ngga seperti di Wkwk Land. Jadi kalau Jumatnya ngga bertepatan dengan public holiday ya, ngga seperti ini.
***
Sholat Jumat pun berjalan lancar. Setelah selesai, saya keluar masjid. Di luar sudah penuh sesak dengan lautan jamaah dan beberapa stand bazar jumat. Sudah mirip sama sholat ied, kalau di Wkwk land.
*niatan mau selfi ... gagal total.
Setelah membeli sebungkus sambosah, Saya langsung mencari bus untuk balik ke stasiun.
Saya pun mengantre panjang, yang masih juga sama Mamas-Mamas. Sepertinya hari ini memang harinya Mamas-Mamas Indonesah.
Akhirnya saya masuk dan duduk di dalam bus. And you know what? Satu bus itu, penumpangnya Mamas Indonesah semua. Hanya ada dua, orang Taiwannya dan ceweknya hanya saya sendiri.
*Mungkin karena hari itu imlek hari pertama jd orang taiwan asli jarang yg bepergian.
Setelah diam beberapa saat, akhirnya saya ngobrol sama Si Mas sebelah saya.
"Mas, emang setiap jumat seperti ini ya?" tanyaku.
"Nggak lah, Mba. Pemandangan seperti ini belum tentu setahun sekali. Itupun kalau lebarannya bertepatan dengan tanggal merah." jawabnya.
"Ooo ... berarti kalau ngga tanggal merah, ngga bisa jumatan dong?"
"Ya begitulah, kecuali Boss-nya special atau kerjanya shift malam.”
"Ooo ... la umpama izin jumatan gitu, ngga bisa, kah?" tanyaku masih ngeyel.
"Tak critain ya, Mbak. Saya pertama kali ke sini dulu juga kaget. tapi kita kan harus berusaha dulu ya.
Yowes ... saya berusaha, ngadep mandor. Jumat saya izin tiga jam(karena transport), di potong gaji ngga papa Tetep ngga boleh.
Yowes ... hari jumaatku tak ganti minggu. Jadi jumat libur minggu kerja, yo tetep ngga boleh.
Yowes ... dua minggu sekali, Jumat aku izin ngga masuk kerja. Dipotong gaji ya, silahkan. Aku malah diancam mau dipulangin, mbak.
Sampeyan tahu sendiri biaya ke sini berapa. Belum lagi potongan ini itu setelah sampe sininya.
Yowes ... saiki aku pasrah, Mba. Penting tekadku, finish kontrak mulih dan buka usaha. Jadi ngga harus balik ke sini lagi. Kapok!"
Si mas selesai curhat. Aku hanya manteng mendengarkan.
"Kalau aku lain lagi ceritanya, Mba." ujar Mas e satunya lagi. Dia di samping kananku. Iya aku di tengah. Mas yang ini masih muda banget, kalau yang tadi kan sudah bapak-bapak.
"Dulu waktu di indonesia, kalau disuruh jumatan itu aku males banget. Padahal sebelahan dengan masjid. Sering tak akalin, dua Jumat libur terus Jumat ke tiga baru budal. Saiki moso ngerti rasane ngeneki, menyesal aku, mba!”
"Alhamdulilah... berarti di Taiwan ada hikmahnya." jawabku
"Tapi Mas, umpama ya sholat jumat di mess sama sesama TKL gitu ngga bisa, ya? Pas jam makan siang? Ada 40 orang ngga sih, temannya?"tanyaku lagi.
"Kalo digabungin sama pabrik-pabrik sebelah, ya ada sih mba. Tapi masalahnya, di antara semuanya, hanya mungkin 20% aja yang sholat. Nih di pabrik ada 12 orang. Tadi yang ke sini cuman dua orang ini." jawab si Mas e yang lebih tua. Yang sebelah kiri.
"Kalo udah di sini ki ya, Mbak. Bejan-bejane wong sing eling! Tenan!" celutuk mas yg di belakang.
Tak terasa bis sudah sampai terminal. Kami turun, setelah saling menyemangati dan mendoakan, kami berpisah. Mereka mau ke Touyen, saya ke Sinchu.
Beberapa saat kemudian saya berpikir.
Oh ya, kok saya tadi ngga nanya Mas e Indonesianya mana dan namanya siapa.
*Penyakit PMI... hai-hai dan ngobrol tanpa nanya asal dan nama. Penting bisa bahasa Indonesia atau daerah.
Begitulah diri kita...
Akan ngerasa butuh air, saat sumur telah kering.
Akan ngerasa butuh sehat, saat tubuh telah sakit.
Akan ngerasa butuh ibadah, saat ibadah itu susah/langka di lakukan.
Astagfirullah.
BeTeWe ... hari ini jumat, monggo mamas-mamas, bapak-bapak, babang-babang, dedek dedek. Yuukkk... jumatan, mumpung masih dikasih kesempatan.

Komentar
Posting Komentar